About Me

Hari yang indah menurutku,  tanggal 23 september 2009 tepat dimana aku 19 tahun lalu dilahirkan. Di sebuah rumah dan di sebuah kota yang kecil, tak pernah orang menduga aku dilahirkan di kota itu. Di dalam akte kelahiranku sendiri ditulis ‘kota samaran’, yaitu Kediri. Kota Kediri memang berharga bagiku, karena disitulah aku dibesarkan dan hidup dengan orang-orang yang sangat berarti dihidupku. Di kota itu, aku yang masih kecil didik oleh ibuku sampai dewasa dan akhirnya kuliah di kota yang cukup jauh. Aku yang masih kecil saat itu hanya dibelikan mainan seadanya, selebihnya aku harus membuat sendiri atau mencari sendiri di hutan. Apapun bisa menjadi mainan bagiku saat itu, memang seolah terasa berat namun hal yang luar biasa terjadi saat ini. Karena tuntutan kreatifitas pada masa kecil itulah yang membuatku sekarang bisa berinovasi  dengan sesuatu yang sederhana. Aku masih ingat saat itu, aku membuat robot-robotan dari bungkus rokok. Bungkus rokok terebut digunting dan ditempel-tempel hingga membentuk sebuah robot. Mungkin hanya sederhana, tapi waktu itu aku bangga sekali bisa membuat mainan sendiri.

Pada akhirnya aku masuk ke sebuah taman kanak-kanak atau yang lebih dikenal dengan nama TK. TK tersebut bernama Sunar Nyata, ada juga yang mengatakan Sinar Nyata, entahlah mana yang benar. Di TK itu aku diajari bagaimana cara membaca dan menulis, bagaimana cara bersosialisasi dengan teman-teman sebaya, dan masih banyak lagi. Dua tahun kemudian aku masuk ke sekolah dasar atau SD. SD tersebut bernama SD Negeri Sumberbendo 1 yang memang tidak begitu jauh dari rumahku. Enam tahun di SD itu rasanya memang sedikit bosan, namun untung ada teman-teman yang mampu menghibur kebosanan waktu itu. Masih banyak sekali yang bisa kuingat mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, kejadian yang baik ataupun yang buruk masih melekat di otakku. Entah kapan lagi aku bisa kembali menikmati masa itu, tapi yang pasti masa itu telah berlalu. Akupun juga masih ingat seorang temanku yang sangat berharga dalam hidupku meniggalkanku selamanya. Hari senin, tanggal 21 Januari 2002 , hari yang sangat kelam bagiku. Saat itu aku hanya ingin menangis namun tidak juga bisa menangis, terasa shock berat dan seolah tak percaya. Teman yang selama ini menjadi sahabat terbaikku di kelas telah meninggalkanku untuk selamanya. Aku enggan menyebut namanya disini, karena nama itu cukup aku teriakkan di hati kecilku saja untuk mengobati rasa rindukuku padanya yang tak akan pernah bertemu lagi untuk selamanya.

Pada tahun yang sama juga, akhirnya aku lulus dari SD. Rasanya berat sekali meninggalkan teman-teman yang sudah 6 tahun bersamaku dalam suka dan duka. Namun itulah yang terjadi, aku harus berpisah dengan mereka. SMP yang kutuju saat itu adalah SMP yang boleh dibilang favorit di kota ku. SMP Negeri 2  Pare, SMP yang tak pernah kubayangkan akan aku masuki. Sebelum masuk ke SMP itu, aku mendaftar di sebuah MTs Negeri yang bersebelahan dengan SMP itu. Pendaftaran dan ujian seleksi masuk antara Mts dan SMP berbeda, sehingga dengan leluasa aku bisa mengikuti ujian dikedua tempat tersebut. Di MTs aku berhasil diterima, begitu juga di SMP. Namun aku lebih memilih SMP, karena banyak teman-temanku SD masuk ke SMP itu. Aku diterima urutan 77 dari sekitar 300an siswa yang diterima, angka yang lumayan menurutku. Namun apalah arti sebuah peringkat masuk, yang penting aku bisa masuk pikirku saat itu. Pada saat kelas 1, diberlakukan masuk siang, sekitar jam 1 mulai masuk kelas dan jam 5 baru pulang sekolah. Banyak teman-teman baru yang aku temui disana, teman-teman mulai dari yang unik sampai yang asyik. Tak terasa juga 3 tahun telah berlalu, berat meniggalkan kelas 3H tercinta yang katanya kelas paling rame dan paling ‘ndablek’ versi guru-guru. Terasa baru kemarin aku menjalani acara perpisahan SMP yang digelar di hotel Surya. Masih teringat aku bermain lempar-lemparan kue dengan teman-teman ku yang ada dibelakang tempat dudukku.

Aku lulus SMP dengan NUN yang tidak terlalu bagus, bahkan jelek menurutku. Hari-hari yang sangat sulit setelah aku lulus dari SMP, aku berkali-kali mendaftar di SMA yang berbeda-beda namun tidak ada yang tembus. Akhirnya aku ‘terbuang’ ke SMA di lereng gunung Kelud, SMA Negeri 1 Puncu, SMA yang masih beberapa tahun saja berdiri. Namun dengan masuk ke SMA itu, aku merasa ada proses recovery mental yang sangat luar biasa. Seolah menjalani semua dari nol, akupun bisa bangkit dari keterpurukan prestasi selama bertahun-tahun yang menderaku. Aku mendapatkan banyak pengalaman disana, bahkan karena banyaknya pengalaman tersebut, aku tidak bisa mengetiknya disini. Salah satu yang boleh aku bilang sukses disana itu adalah aku berhasil menjadi peringkat 2 di kelas dan menjadi peringkat 4 pararel insyaAllah. Walaupun tidak sampai rangking 1, namun itu sudah membuatku lega dengan perjuangan kerasku saat ini. Akhir semester 1, ibuku memindahkanku ke SMA Negeri 1 Pare, SMA dimana aku merasa disitulah aku memulai menatap masa depanku dengan senyuman. Pertama kali di SMA itu, aku mendapatkan nilai yang pas-pasan bahkan cenderung buruk. Namun, lambat laun nilaiku pun meningkat. Naik ke kelas XI, aku masuk ke jurusan IPA atau IA, jurusan yang paling digemari sebagian besar anak-anak SMA. Mulai kelas XI inilah aku menemukan apa yang kucari, apa yang kuminta selama ini. Sesuatu yang sangat berharga dihidupku, walaupun aku mungkin tak akan memilikinya hingga akhir hayatku. Sesuatu yang yang bisa membuatku tersenyum pertama kali di hidupku. Sesuatu yang kadang bisa membuatku menangis pertama kali di hidupku jika aku tidak menyadarinya. Tidak tahu kenapa menjadi seperti itu, padahal aku sudah mengenal dia sejak SMP sekalipun dia tidak mengenalku. Dan tidak tahu kenapa juga, aku yang berwatak keras seolah tidak bisa berbuat apa-apa didepannya. Setiap dia meminta sesuatu, aku selalu berusaha mati-matian untuk mendapatkan sesuatu itu. Jika dia memintaku untuk membantunya, aku selalu berusaha men-destroy seluruh pekerjaanku sendiri sekalipun itu penting. Sampai sekarang pun masih seperti itu, entah apa maksud Allah di balik semua ini. Yang pasti Allah selalu memberikanku pelajaran yang sangat berharga dalam setiap kejadian-kejadian dalam hidupku. ALLAHU AKBAR !!!

Jika aku bercerita mengenai dia dan aku, waktu seminggu untuk mengetikkpun terasa sangat kurang bagiku. Bahkan buku setebal novel Harry Potter and The Deadly Hallows pun masih tak cukup untuk menampung seluruh catatanku mengenai dia. Kalau aku ceritakan disini pun juga tak akan berakhir, lebih baik sekarang beralih tema yang lain. Aku juga tak ingin menangis di depan laptop gara-gara menulis cerita ini, mataku sudah berkaca-kaca dan sebentar lagi pasti akan turun hujan lokal di mataku. Aku akhirnya masuk ke tingkat tertinggi pendidikan, yaitu sebagai mahasiswa di sebuah institut yang tak pernah aku bayangkan. Institut Pertanian Bogor, atau yang lebih dikenal dengan nama IPB. Disana aku mulai mengenal segala sesuatu tentang dunia luar, mengenal banyak teman dari berbagai suku, ras, golongan, dan agama. Aku juga mulai mengenal apa yang namanya organisasi dan bagaimana cara kerjanya. Semuanya aku dapatkan di Institut ini, selain aku juga mendapatkan pelajaran-pelajaran kuliah yang aneh-aneh. Sampai akhirnya, hari ini aku mengetik tulisan ini.

Note :

Tidak ada unsur rekayasa dalam cerita ini, semua baik dan burukku aku ceritakan disini agar semua orang bisa menilai dan mengenalku apa adanya. Aku tidak ingin menutupi sesuatu sedikitpun dalam hidupku karena prinsip hidupku adalah ‘open source’. Tidak ada bagian-bagian yang ditambah, namun ada beberapa yang dikurangi. Karena tidak akan cukup waktu untuk menuliskan seluruh cerita dihidupku di sini. Dan hanya 1 orang yang mengerti seluruh cerita hidupku selain aku, yaitu….. tak perlu keberitahukan siapa dia. Dan tentunya, Zat Yang Maha Kekal dan Maha Tahu atas segalanya yang terjadi, Allah SWT. =)

Elka Firmanda

Kediri, 27 September 2009 10:13